“ILMU THEOLOGI ISLAM & ILMU TASAWUF”
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah
tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Theologi islam dan Ilmu tasawuf untuk masyarakan ini dapat memberikan sedikit pengetahuan kepada para pembaca.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Theologi islam dan Ilmu tasawuf untuk masyarakan ini dapat memberikan sedikit pengetahuan kepada para pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Mungkin
terasa aneh jika dalam agama Islam masalah yang pertama-tama muncul adalah
dalam bidang politik bukan dalam bidang teologi. Tetapi persoalan politik ini
akan meluas menjadi persoalan teologi.
Agar
hal ini menjadi jelas perlulah kita mengetahui sejarah timbulnya persoalan Teologi
Islam. Tegasnya, dalam fase perkembangannya yang pertama
B.
RUMUSAN
MASALAH
- Apa pengertian teologi dan nama-nama lain dariTeologi Islam?
- Bagaimana sejarah persoalan timbulnya persoalan Teologi Islam?
- Aliran yang terkait dalam sejarah timbulnya persoalan teologi islam?
- Apa pengertian ilmu tasawuf ?
- Bagaimana perkembangan asal usul ilmu tasawuf ?
C.
TUJUAN
PENULISAN
- Mengetahui pengertian teologi dan nama-nama lain dari Teologi Islam.
- Memahami sejarah persoalan timbulnya persoalan Teologi Islam
- Memberikan pengetahuan tentang aliran-aliran yang ada dalam perkembangan teologi.
- Mengetahui pengertian dan asal usul ilmu tasawuf
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN TEOLOGI DAN NAMA-NAMA
LAINNYA
Teologi,
sebagimana diketahui membahas doktrin – doktrin dasar dari suatu doktrin agama.
Sehingga dalam Islam konsep teologi mutlak menjadi wajib dipelajari setiap
muslim yang telah dikaruniai oleh akal oleh Allah SWT. Karena sesungguhnya
pondasi agama dalam Islam haruslah dibangun atas dasar proses berfikir
sebagaimana diperintahkan dalam banyak ayat al-Qur'an. Salah satunya : “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi terdapat tanda – tanda bagi orang –
orang yang berakal (yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia – sia. Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka.” (TQS Ali -Imran :
190) tentunya berfikir yang dimaksud
adalah menempat akal secara proporsional dimana akal merupakan alat untuk
memahami ayat – ayat Allah, baik ayat kauliah dan kauniah.
Metode inilah yang
menjadikan Islam sebagai agama yang tinggi dengan doktrin rasional dimana Islam
mampu memecahkan problematika terbesar umat manusia (al-uqdah al kubro) atau
sering disebut akidah. Berbeda dengan agama lain yang dibangun atas dasar dogma
– dogma semata tanpa melibatkan proses berfikir. Teologi dalam Islam juga
disebut ilmu tauhid.
Ilmu Tauhid :
yakni ilmu yang membahas tentang wujud
Allah, sifat – sifat wajib dan boleh serta yang wajib ditiadakan bagi-Nyaari
perkataan “Theos”, artinya “Tuhan” dan “logos” artinya ilmu. Jadi, teology
berarti ilmu tentang tuhan atau ilmu ketuhanan.
Difinisi teology yang diberikan oleh ahli-ahli ilmu agama
antara lain dari Fergilius Ferm, yaitu “The discipline which Concern God (or
the Divine Reality) and God’s relation to the world”(Theology adalah pemikiran
sistematis yang berhubungan dengan alam semesta).
Dalam Encyclopedia Everyman’s disebutkan tentang teologi
sebagai berikut : “Science of religion, dealing therefore with God, and man in
his relation to God”(Pengetahuan tentang agama yang karenanya membicarakan
tentang Tuhan dan manusia dalam pertaliannya dengan Tuhan.)2
Teologi dari segi etymology ( bahasa maupun terminology
(istilah). “ Teology terdiri dari perkataan theos yang artinya adalah Tuhan dan
logos yang artinya ilmu. Jadi teology adalah ilmu tentang tuhan atau ilmu
ketuhanan.
Selanjutnya teologi Islam juga disebut
sebagai ilmu kalam yakni ilmu yang mendalami kalam tuhan atau juga kalam yang
dimaksud disini adalah kata – kata atau kalam yang sering digunakan oleh para
teolog untuk berdiskusi sehingga dalam Islam para teolog sering juga disebut
sebagai mutakallimin.
Ada
juga yang menyebutnya sebagai ilmu ushuluddin, karena ilmu ini membahas tentang
prinsip-prinsip agama Islam. Ada juga yang menyebutnya ilmu aqidah atau ‘aqoid
karena ilmu ini membicarakan tentang kepercayaan Islam.
B.
SEJARAH LAHIRNYA TEOLOGI
Di pertengahan kedua dari abad
keenam masehi, jalan dagang timur barat berpindah dari teluk Persia euphrat
diutara dan laut merah perlembahan neil di selatan, ke yaman hijaz
Syria.peperangan yang senantiasa terjadi antara kerajaan by zantin dan Persia
membuat jalan utara tak selamat dan tak menguntungkan bagi peperangan byzantine
dan Persia, beberapa dalam kekacuan yang mengakibatkan perjalanan dagang melalui
perlembahan neil tidak menguntungkan pula.
Dengan
pindahnya perjalanan dagang timur barat
ke semenanjung Arabia, mekkah yang terletak ditengah –tengah garis
perjalanan dagang itu, menjadi kota
dagang. Hal ini dimaksud dengan : رِحْلَةَ الشِّتَاءِ
وَالصَّيْفِ
Dari dagang transit ini, mekkah
menjadi kaya. Dagang dikota ini dipegang oleh quraisy dan sebagai orang orang
yang berada dan berpengaruh dalam masyarakat pemerintah mekkah juga teletak
ditangan mereka.yaitu kaum pedagang tinggi .
kota
mekkah bukanlah kota pedagang , tetapi kota petani. Masyarakat nya tidak
homogeny , tetapi terdiri dari bangsa arab dan bangsa yahudi. Bangsa arab dan
bangsa
yahudi.diantara
kedua suku timbul persaian untuk menjadikepala masyarakat madinah,dan
menimbulkan pertengkaran dan mereka menginginkan seorang hakam.
Ketika pemuka –pemuka kedua suku bangsa ini pergi
haji ke mekkah, mereka mendengar dan mengetahui kedudukan nabi Muhammad dan
dalam satu perjumpaan dengan beliau mereka meminta nabi Muhammad supaya pindah
ke yasrib sebagai pengantara antara kedua suku bangsa yang bertentangan itu
.ketika beliau berhijrah ke yasrib kota tersebut di beri nama madinah al-nabi.
Dari sejarah ringkas ini dapat di
ambil kesimpulan bahwa selama dimekkah
nabi Muhammad hanya mempunyai fungsi kepala agama, dan tak mempunyai fungsi
kepal pemerintah, dan dimadinah sebaliknya, nabi muhamad disamping menjadi
kepala agama juga menjadi kepala pemertintahan. Beliaulah yang pertama mendirikan kekuasaan politik. Ketika beliau
wafat 632 M seperti yang digambarkan oleh W.M waat, telah merupakan kumpulan
suku-suku bangsa arab, yang mengikattali persekutuan dengan (nabi) Muhammad
dalam berbagai bentuk, dengan masyarakat
madinah dan mungkin juga masyarakat
mekkah sebagai intinya .
Islam
sendiri , sebagai kata R.strothmann, disamping merupakan system merupakan
system agama telah pula menjadi seorang ahli Negara.
Sejarah meriwayatkan bahwa abu
bakr lah yang disetujui oleh masyarakat
islam sebagai pengganti atau khalifah
nabi. kemudian abu bakr digantikan oleh umar bin al-khattab dan umar bin affan
juga . Tindakan-tindakan politik yang dijalan kan usman ini tidak menguntungkan
bagi dirinya . sahabat sahabat nabi yang pada mulanya menyokong usman, mulai
meninggalkan khalifah yangketiga ini karena tindakan nya kurang tepat.
Perkembangan suasana di madinah selanjut nya membawa pewmbunuhan usman oleh
pemuka-pemuka pemberontakan dari mesir.
Setelah usman wafat ali sebai khalifah ke empat tetapi ia
mendapat tantangan dari pemuka- pemuka yang ingin menjadi khalifah terutama
talhah dan zubeir .
Dan
tantangan kedua dating dari mu'awiyah , gubernur damaskus dan keluarga yang
dekat bagi usman.ia menuntut kepada ali supaya menghukum pembunuh-pembunuh
usman, bahkan ia menuduh ali turut campurr dalam soal pembunuhan itu.salah
seorang pemuka pemberontak-pemberontak mesir, yang membunuh usman adalah
muhammad ibn abi bakr, anak angkat dari ali ibn abi talib dan pula ali tidak
mengambil tindakan keras terhadap pemberontak itu ,bahkan muhammad ibn abi bakr
diangkat menjadi gubernur mesir.
Dalam pertempuran yang terjadi
antara kedua golangan ini di siffin, tentara ali dapat mendesak tentara
muʼawiyah . tetapi tangan kanan muʼawiyah, amrt ibn al-as yang terkenal sebagai orang licik, meminta
untuk berdamai dengan mengangkat al-quran ke atas. Qurra yang ada di pihak ali
mendesak ali supaya menerima tawaran itu dan demikian dicarilah peerdamaian
dengan mengadakan arbitrase. Sebagai pengantara diangkat dua orang amr ibn
al-as dari pihak muʼawiyah dan abu musa al-asy ʼari dari pihak ali.
Sikap ali menerima tipu muslihat
ʼamr al-aas untuk mengadakan arbitrase, sungguh pun dalam keadaan terpaksa
tidak disetujui oleh sebagaian tentaranya.mderka berpendapat bahwa halserupa
itu tidak dapat diputuskan oleh arbitrase manusia.putusan hanya datang dari
allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-quran. La hukma illa
lillah(tidak ada hukum selain dari hukum allah) atau la hakama illa allah(tidak ada pengantara
selain dari allah), menjadi semboyan mereka . mereka memandang ali berbuat
salah, mereka meninggalkan barisanya.golongan ini dalam sejarah islam terkenal
dengan nama al-khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisah kan diri atau
seceders.
Karena memandang ali bersalah dan
berbuat dosa, mereka melawan ali . ali sekarang melawan dua musuh yaitu
muʼawiyah dan khawarij. Ali terlebih dahulu menyerang khawarij,setelah khwarij
kalah,tentara ali terlalu capai untuk meneruskan pertempuran dengan muʼawiyah .
muʼawiyah tetap berkuasa di damaskus dan setelah ali ibn abi talib wafat ia
dengan mudah dapat memperoleh pengakuan sebagai kholifah umat islam pada tahu
661M.
Persoalan – persoalan yang terjadi
dalam lapangan politik akan menimbulkan
persoalan
– persoalan teologi. Maka timbullah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang
bukan kafir. Khawarij memandang bahwa ’Ali, Mu’awiyah, Amr Ibn al- ‘As, Abu
Musa al Asy’ari dan lain – lain yang akan menerima atbitrase adalah kafir :
وَمَنْ
لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Dari ayat inilah mereka mengambil semboyan La hukma illa
lillah. Karena keempat pemuka Islam di atas telah dipandang kafir dalam
arti bahwa mereka telah keluar dari Islam, yaitu murtad atau apostate,
mereka mesti dibunuh.
Lamban laun kaum Khawarij pecah menjadi
beberapa sekte. Konsep kafir turut pula mengalami perubahan. Yang dipandang
kafir bukan lagi hanya orang yang tidak menentukan hukum dengan al-Qur’an,
tetapi orang yang berbuat dosa besar (murtakib al kaba’ir) juga dipandang
kafir.
Kemudian muncul persoalan lagi yaitu : Masihkah ia bisa
dipandang orang mukmin ataukah ia sudah menjadi kafir karena berbuat dosa besar
itu?. Persoalan ini menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam.
·
Pertama, aliran Khawarij yang mengatakan
bahwa orang yang berdosa besar adalah
kafir (murtad) oleh karena itu wajib dibunuh.
·
Kedua, aliran Murji’ah yang menegaskan
bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir tetapi tetap mukmindan tidak akan
kekal di neraka.
·
Ketiga, aliran Mu’tazilah sebagai aliran yang tidak menerima
pendapat di atas. Bagi mereka yang berdosa besar bukan kafir tetapi bukan pula
mukmin. Orang yang serupa ini kata mereka mengambil posisi almanzilah bain
almanzilitain.
Pada saat yang bersamaan timbul pula dalam islam dua aliran
dalam teologi yang terkenal dengan nama al-qodariah dan al-jabariah. Menurut
qadariah manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya.
Jabariah, sebaliknya berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan
dalam kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam segala tingkah lakunya, menurut
paham jabariah, bertindak dengan paksaan dari Tuhan.
Kemudian muncul teologi baru yang bernama Asy’ariah.
Asy’ariah ini dibentuk oleh Abu Hasan al-Asy’ari. Teologi ini terbentuk akibat
timbulnya perlawanan antara Mu’tazilah dengan kalangan umat Islam terutama
golongan Hambali (mazhab Hambali).
Disamping aliran Asy’ariyah timbul pula di Samarkand suatu
aliran yang bermaksud juga menentang aliran Mu’tazilah dan didirian oleh Abu
Mansur al-Maturidi. Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi
al-Maturidiah.
Selain Abu Hasan Asy’ari dan Abu
Mansur al-Maturidi ada lagi seorang teolog dari Mesir yang juga bermaksud untuk
menentang ajaran-ajaran kaum Mu’tazilah. Teolog itu bernama al-Tahawi. Tetapi
aaran – ajaran Tahawi tidak menjelma sebagai aliran teologi Islam.
Dengan demikia aliran – aliran
teologi penting yang timbul dalam islam ialah aliran Khawarij, Murji’ah,
Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiah. Aliran – aliran Khawarij, Murji’ah,
Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. Yang masih ada
sampai saat ini adalah aliran Asy’ariyah dan al- Maturidiah, dan keduanya di
sebut Ahl Sunnah wa al – Jama’ah. Aliran Matudiah banyak dianut oleh umat Islam
yang bermazhab Hanafi, sedangkan Asy’ariah pada umumnya dipakai oleh umat Islam
Sunni lainnya.
BAB III
ILMU TASAWUF
ILMU TASAWUF
A. PENGERTIAN TASAWUF
Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffah yang berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang yang berada di serambi masjid dan bulu domba merupakan tinjauan aspek lahiriyah dari shufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih memberatkan pada aspek bathiniyah.
Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan.
Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan tertentu. Ia misalnya harus menempuh beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi dalam bentuk berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu.
Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar Muhammad al-Kalabadzi misalnya, mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa, tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, al-ma’rifat dan kerelaan hati.
B. ASAL-USUL TASAWUF
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar yang masuk ke dalam Islam. Sebagian penulis misalnya ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kebiasaan rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan material. Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf timbul atas pengaruh ajaran Hindu dan disebutkan pula bahwa ajaran tasawuf berasal dari filsafat Phytagoras dengan ajaran-ajarannya yang meninggalkan kehidupan material dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk ke dalam Islam karena pengaruh filsafat Plotinus. Disebutkan bahwa menurut filsafat emanasi Plotinus bahwa roh memancar dari zat Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Tetapi dengan masuknya roh ke alam materi, ia menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat Yang Maha Suci, terlebih dahulu ia harus disucikan. Tuhan Maha Suci dan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh yang suci, dan pensucian roh ini terjadi dengan meninggalkan hidup kematerian, dan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin dan kalau bisa hendaknya bersatu dengan Tuhan semasih berada dalam hidup ini.
Namun demikian, terlepas atau tidak adanya pengaruh dari luar itu, yang jelas bahwa dalam sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan hadits terdapat ajaran yang dapat membawa kepada timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, yang merupakan ajaran dalam mistisisme ternyata ada di dalam Al-Qur’an dan hadits.
Ayat 186 Surat Al-Baqarah misalnya menyatakan :
وَاِذَى سَاَلكَ عِبَادِى عَنِّيْ فَاِنـّيْ قَرِ يْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِ
Artinya :
“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku. Aku adalah dekat. Aku mengabulkan seruan orang memanggil jika ia panggil Aku” (QS. Al-Baqarah : 186)
Kata دعا yang terdapat dalam ayat di atas oleh sufi diartikan bukan berdoa dalam arti yang lazim dipakai, melainkan dengan arti berseru atau memanggil. Tuhan mereka panggil dan Tuhan memperhatikan diri-Nya kepada mereka.
Ayat 115 juga Surat Al-Baqarah juga menyatakan :
وَلله المْشْرِقُ وَالمغَرِبُ فَايَنْمَاَتوَ لوُّا فَثمَّ وَجْهُ الله
“Timur dan Barat kepunyaan Allah, maka kemana saja kamu berpaling di situ (kamu jumpai) wajah Tuhan”.
Bagi kaum sufi ayat ini mengandung arti bahwa di mana saja Tuhan ada dan dapat dijumpai.
Selanjutnya dalam hadits dinyatakan :
مَنْ عَرَ فَ نـَفْسَهُ فَقَدْ عَرَف َالله
“Siapa yang kenal pada dirinya, pasti kenal kepada Tuhan”
Hadits lain juga mempunyai pengaruh kepada timbulnya paham tasawuf adalah hadits qudsi yang artinya :
“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin kenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan mereka pun kenal pada-Ku melalui diri-Ku”
Menurut hadits ini, bahwa Tuhan dapat dikenal melalui makhluk-Nya, dan pengetahuan yang lebih tinggi ialah mengetahui Tuhan melalui diri-Nya.
Tahanuts yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama bagi nur tasawuf, karena itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniah. Di dalam mengingat Allah serta memuja-Nya di Gua Hira, putuslah ingatan dan tali rasa beliau dengan segala makhluk lainnya. Di situ pula berawalnya Nabi Muhammad mendapat hidayah, membersihkan diri dan mensucikan jiwa dari noda-noda penyakit yang menghinggapi sukma, bahkan sewaktu itu pulalah berpuncaknya kebesaran, kesempurnaan, dan kemuliaan jiwa Muhammad Saw. dan membedakan beliau dari kebiasaan hidup manusia biasa.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama hayatnya, segenap peri kehidupan beliau menjadi tumpuan masyarakat, karena segala sifat terpuji terhimpun pada dirinya, bahkan beliau merupakan lautan budi yang tidak pernah kering airnya kendatipun diminum oleh semua makhluk yang memerlukan air. Amal ibadah beliau tiada tara bandingannya. Dalam sehari semalam Rasulullah minimal membaca istighfar minimal 70 kali, shalat fardhu, rawatib serta shalat dhuha yang tidak kurang dari delapan rakaat setiap hari. Shalat tahajjud beliau tidak lebih dari sebelas rakaat, dan lama sujudnya sama dengan lamanya sahabat membaca lima puluh ayat. Shalat beliau yang khusuk dan tuma’ninah amat sempurna. Dalam berdoa, perasaan khauf dan raja’ selalu dinampakkan Rasulullah dengan tangis dan sedu sedannya.
Masih banyak lagi amalan Rasulullah yang menunjukkan ketasawufannya. Apa yang dikemukakan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa amalan tasawuf ternyata sudah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw.
Pola hidup dan kehidupan Rasulullah yang sangat ideal itu menjadi suri tauladan bagi para sahabatnya, baik bagi sahabat dekat maupun sahabat yang jauh. Tumpuan perhatian mereka senantiasa ditujukan untuk mengetahui segala sifat, sikap dan tindakan Rasulullah, sehingga para sahabat tersebut dapat pula memantulkan cahaya yang mereka terima kepada orang yang ada di sekitarnya dan generasi selanjutnya. Amalan tasawuf sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah itu juga diikuti oleh para sahabatnya.
Abu Bakar Ash-Shiddieq misalnya, pernah hidup dengan sehelai kain saja. Dalam beribadat kepada Allah Swt. karena khusu dan tawadhu’nya sampai dari mulutnya tercium bau limpanya, karena terbakar oleh rasa takut kepada Allah. Pada malam hari ia beribadat dengan membaca Al-Qur’an sepanjang malam.
Umar bin Khattab dikenal dengan keadilan dan amanahnya yang luar biasa. Ia pernah berpidato di hadapan orang banyak, sedangkan di dalam pakaiannya terdapat dua belas tambalan dan dia tidak memiliki kain yang lainnya.
Usman bin Affan dikenal sebagai orang yang tekun beribadah dan pemalu, dan meskipun ia juga dikenal sebagai seorang sahabat yang tekun mencari rezeki, tetapi iapun terkenal sebagai pemurah, sehingga tidak sedikit kekayaannya digunakan untuk menolong perjuangan Islam.
Sahabat selanjutnya adalah Ali bin Abi Thalib yang tidak peduli terhadap pakaiannya yang robek dan menjahitnya sendiri.
Beberapa tokoh besar dalam sufi adalah : Rabi’ah al-Adawiyah, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansur al-Hajjaj, dan Al-Ghazali.
Demikian fakta sejarah berbicara tentang kehidupan yang dipraktekkan oleh orang-orang yang bertasawuf, meninggalkan kemegahan dunia dan hanya mengabdikan diri untuk akhiratnya.
C. SUMBER-SUMBER TASAWUF
Ada kelompok yg berpendapat bahwa tasawuf berakar dari luar ajaran Islam seperti ; Majusi atau Hindu, Kristen atau Yunani, Atau campuran dari agama-agama tersebut.
Taswauf bersumber dari Yunani
Teori ini mengandung banyak kelemahan serta bertentangan dengan realitas sejarah. Pertama: Tasawuf Islam telah berkembang sebelum ajaran dan pemikiran agama hindu merasuki masyarakat muslim. Selain itu, tasawuf Islam lahir sebelum munculnya satu-satunya referensi tentang akidah agama hindu. Referensi itu adalah sebuah buku yg ditulis oleh Abu Ar-Raihan Al-Biruni (315H-440H) dengan judul Tahqiq Ma lil Hindi min Maqulah Maqbulah fil `Aqli Au Marzulah. Kedua: Dari referensi tersebut Al-Biruni tidak menyebutkan adanya hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi.
Oleh karena itu, tidak ada sandaran dan landasan historis yg memperkuat tentang teori tersebut yg mengatakan tasawuf bersumber dari yunani. (Tarikh At-Tashawwuf Al-Islami, lihat juga Dr. Jamil Muhammad Abul `Ala, At-Tasawwuf Al-Islami Nasy`atuh wa Tathawwuruh)
Tasawuf bersumber dari Persia
Sejarah membuktikan adanya hubungan Arab-Persia. Namun demikian, kita tidak mendapatkan keterangan yg jelas yg membuktikan adanya transmisi agama majusi dan filsafat Persia dari bangsa Persia ke bangsa Arab melalui hubungan tadi. Tidak ada argumentasi yg memungkinkan kita untuk membuat kesimpulan “bahwa tasawuf secara spesifik adalah salah satu pengaruh dan buah dari hubungan antara bangsa Arab dengan bangsa Persia”.(AL-Hayah Ar-Ruhiyah fil Islam) Jika ada orang yg mengatakan bahwa ajaran tasawuf bersumber dari Persia akibat terpengaruhnya para syeikh sufi pada Persia, maka berarti orang tersebut tidak memahami sejarah, dan pendapatnya itu bertentangan dengan kaidah ilmiah.
Selain itu, fakta menyatakan besarnya pengaruh para sufi terhadap para sufi Persia. Sebut saja Muhyiddin Ibnu Arabi (wafat 638H) Tokoh sufi ini sangat berpengaruh terhadap sejumlah besar tokoh sufi Persia semisal Al-Iraqi (wafat 686H) dan AL-Kirmani (wafat 698 H)
Tasawuf bersumber dari Filsafat Yunani
Sejarah membuktikan bahwa pemikiran Arab dan Yunani baru mengalami persinggungan setelah adanya kegiatan penerjemahan literature-literatur Yunani kuno ke dalam Bahasa Arab. Sementara Kegiatan penerjemahan ini baru dilakukan setelah tasawuf tumbuh dan berkembang pesat. Hal ini membuktikan bahwa pada fase-fase pertamanya tasawuf bersih dari pengaruh yunani.
Tasawuf bersumber dari Kristen
Pendapat para peneliti diatas pun tidak benar karena para sufi dan zahid yg terpengaruh ajaran Kristen muncul belakangan, jauh hari setelah kemunculan tasawuf itu sendiri. Anggapan sebagian orientalis yg mengatakan bahwa pola hidup miskin, sikap zuhud, dan zikir yang dilakukan para sufi diadaptasi dari Kristen juga salah. Karena banyak sekali ayat Al-Qur`an dan Sunnah Nabi yg menyeru ummatnya untuk berprilaku zuhud dan tidak cenderung pada dunia dan kenikmatannya. Banyak pula ayat dan hadits yg memotivasi umat untuk berzikir. Semua ini menegaskan bahwa praktek sufi tersebut mempunyai sumber yg orisinil dalam Islam.
Kesimpulannya. Setiap pendapat tentang keterpengaruhan tasawuf oleh unsur diluar Islam tidak tepat dan tidak didukung oleh dikumen atau teks yg diketahui khalayak ramai. Oleh karena itu, maka pendapat tersebut hanya terbatas pada masa paska tahun 1920M. Bahkan, sebagian orang yg berpendapat demikian mulai mencabut pendapatnya (Tarikh At-Thasawwuf Al-Islami).
Akhirnya, para zuhud dan sufi generasi pertama adalah orang-orang yg bersih jiwanya dan cerah hatinya, bersih nuraninya dan mampu menyingkap hakikat. Mereka melakukan seperti apa yg dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti zuhud, wara`, takwa, dan ibadah berkesinambungan. Keterpengaruhan mereka pada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam (bukan pada agama dan filsafat lain) itulah yg mengantarkan mereka menjadi manusia sufi dan zahid.
Tasawuf bersumber dari Islam
Ada kelompok yang mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari ajaran Islam. Inilah pendapat yang paling benar. Karena, dasar-dasar akidah dan perilaku tasawuf bersumber dari teks-teks Alqur`an dan As-Sunnah, dan kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau. Para zuhud menyandarkan kegiatan zuhudnya dari sumber-sumber Islam tersebut, demikian juga para sufi yg menempuh jalan yg lurus.
Dari Al-Quran:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yg sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-`Ankabut:64). Lihat pula Al-Hadid:20-21 Ali-Imran:191 - Thaha:130 l-Hujurat:13. Dalam banyak ayatnya, Al-Qur`an memotifasi untuk hidup zuhud dan mewaspadai sikap cinta dunia dan kemerlapannya. Orang yg membaca Al-Qur`an secara jeli akan menjumpai ayat-ayat yg membuka pintu zikir, introspeksi diri, ibadah dan bangun malam bagi para ahli ibadah. Al-Qur`an juga berbicara tentang muraqabah, taubat, takut (khauf) pada Allah, harapan (raja`) pada Allah, syukur, tawakal, serta sabar. Al-Qur`an penuh dengan anjuran untuk mengamalkan sifat terpuji. Maka karena itu, para sufi berupaya memperindah diri dengan sifat-sifat terpuji. Dan mengambil materi pertamanya dan makanan rohani mereka dari Kitabullah.
Hadits Qudsi dan Hadits Nabi: Abuhurairah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Allah Azza Wajalla berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hambaKu dan Aku selalu bersamanya tatkala ia mengingatKu. Jika hambaKu mengingatKu dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Dan, jika ia menyebutKu dihadapan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di hadapan orang banyak yg lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta maka aku akan mendekat padanya satu depa. Jika dia padaKu dengan berjalan, maka Aku akan datang padanya dengan berlari. (H.R. Muslim)
“Bersikap zuhudlah pada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, Bersikap zuhudlah dari segala apa yg dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu!.” (H.R. Ibnu Majah)
“Jadilah engkau didunia ini laksana orang asing atau orang yg sedang menyeberang jalan.” (H.R. Al-Bukhari)
Malaikat Jibril bertanya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang
Ihsan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya; dan jika engkau tidak melihatNya. Maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. AL-Bukhari)
Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffah yang berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang yang berada di serambi masjid dan bulu domba merupakan tinjauan aspek lahiriyah dari shufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih memberatkan pada aspek bathiniyah.
Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan.
Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan tertentu. Ia misalnya harus menempuh beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi dalam bentuk berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu.
Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar Muhammad al-Kalabadzi misalnya, mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa, tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, al-ma’rifat dan kerelaan hati.
B. ASAL-USUL TASAWUF
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar yang masuk ke dalam Islam. Sebagian penulis misalnya ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kebiasaan rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan material. Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf timbul atas pengaruh ajaran Hindu dan disebutkan pula bahwa ajaran tasawuf berasal dari filsafat Phytagoras dengan ajaran-ajarannya yang meninggalkan kehidupan material dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk ke dalam Islam karena pengaruh filsafat Plotinus. Disebutkan bahwa menurut filsafat emanasi Plotinus bahwa roh memancar dari zat Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Tetapi dengan masuknya roh ke alam materi, ia menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat Yang Maha Suci, terlebih dahulu ia harus disucikan. Tuhan Maha Suci dan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh yang suci, dan pensucian roh ini terjadi dengan meninggalkan hidup kematerian, dan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin dan kalau bisa hendaknya bersatu dengan Tuhan semasih berada dalam hidup ini.
Namun demikian, terlepas atau tidak adanya pengaruh dari luar itu, yang jelas bahwa dalam sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan hadits terdapat ajaran yang dapat membawa kepada timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, yang merupakan ajaran dalam mistisisme ternyata ada di dalam Al-Qur’an dan hadits.
Ayat 186 Surat Al-Baqarah misalnya menyatakan :
وَاِذَى سَاَلكَ عِبَادِى عَنِّيْ فَاِنـّيْ قَرِ يْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِ
Artinya :
“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku. Aku adalah dekat. Aku mengabulkan seruan orang memanggil jika ia panggil Aku” (QS. Al-Baqarah : 186)
Kata دعا yang terdapat dalam ayat di atas oleh sufi diartikan bukan berdoa dalam arti yang lazim dipakai, melainkan dengan arti berseru atau memanggil. Tuhan mereka panggil dan Tuhan memperhatikan diri-Nya kepada mereka.
Ayat 115 juga Surat Al-Baqarah juga menyatakan :
وَلله المْشْرِقُ وَالمغَرِبُ فَايَنْمَاَتوَ لوُّا فَثمَّ وَجْهُ الله
“Timur dan Barat kepunyaan Allah, maka kemana saja kamu berpaling di situ (kamu jumpai) wajah Tuhan”.
Bagi kaum sufi ayat ini mengandung arti bahwa di mana saja Tuhan ada dan dapat dijumpai.
Selanjutnya dalam hadits dinyatakan :
مَنْ عَرَ فَ نـَفْسَهُ فَقَدْ عَرَف َالله
“Siapa yang kenal pada dirinya, pasti kenal kepada Tuhan”
Hadits lain juga mempunyai pengaruh kepada timbulnya paham tasawuf adalah hadits qudsi yang artinya :
“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin kenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan mereka pun kenal pada-Ku melalui diri-Ku”
Menurut hadits ini, bahwa Tuhan dapat dikenal melalui makhluk-Nya, dan pengetahuan yang lebih tinggi ialah mengetahui Tuhan melalui diri-Nya.
Tahanuts yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama bagi nur tasawuf, karena itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniah. Di dalam mengingat Allah serta memuja-Nya di Gua Hira, putuslah ingatan dan tali rasa beliau dengan segala makhluk lainnya. Di situ pula berawalnya Nabi Muhammad mendapat hidayah, membersihkan diri dan mensucikan jiwa dari noda-noda penyakit yang menghinggapi sukma, bahkan sewaktu itu pulalah berpuncaknya kebesaran, kesempurnaan, dan kemuliaan jiwa Muhammad Saw. dan membedakan beliau dari kebiasaan hidup manusia biasa.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama hayatnya, segenap peri kehidupan beliau menjadi tumpuan masyarakat, karena segala sifat terpuji terhimpun pada dirinya, bahkan beliau merupakan lautan budi yang tidak pernah kering airnya kendatipun diminum oleh semua makhluk yang memerlukan air. Amal ibadah beliau tiada tara bandingannya. Dalam sehari semalam Rasulullah minimal membaca istighfar minimal 70 kali, shalat fardhu, rawatib serta shalat dhuha yang tidak kurang dari delapan rakaat setiap hari. Shalat tahajjud beliau tidak lebih dari sebelas rakaat, dan lama sujudnya sama dengan lamanya sahabat membaca lima puluh ayat. Shalat beliau yang khusuk dan tuma’ninah amat sempurna. Dalam berdoa, perasaan khauf dan raja’ selalu dinampakkan Rasulullah dengan tangis dan sedu sedannya.
Masih banyak lagi amalan Rasulullah yang menunjukkan ketasawufannya. Apa yang dikemukakan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa amalan tasawuf ternyata sudah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw.
Pola hidup dan kehidupan Rasulullah yang sangat ideal itu menjadi suri tauladan bagi para sahabatnya, baik bagi sahabat dekat maupun sahabat yang jauh. Tumpuan perhatian mereka senantiasa ditujukan untuk mengetahui segala sifat, sikap dan tindakan Rasulullah, sehingga para sahabat tersebut dapat pula memantulkan cahaya yang mereka terima kepada orang yang ada di sekitarnya dan generasi selanjutnya. Amalan tasawuf sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah itu juga diikuti oleh para sahabatnya.
Abu Bakar Ash-Shiddieq misalnya, pernah hidup dengan sehelai kain saja. Dalam beribadat kepada Allah Swt. karena khusu dan tawadhu’nya sampai dari mulutnya tercium bau limpanya, karena terbakar oleh rasa takut kepada Allah. Pada malam hari ia beribadat dengan membaca Al-Qur’an sepanjang malam.
Umar bin Khattab dikenal dengan keadilan dan amanahnya yang luar biasa. Ia pernah berpidato di hadapan orang banyak, sedangkan di dalam pakaiannya terdapat dua belas tambalan dan dia tidak memiliki kain yang lainnya.
Usman bin Affan dikenal sebagai orang yang tekun beribadah dan pemalu, dan meskipun ia juga dikenal sebagai seorang sahabat yang tekun mencari rezeki, tetapi iapun terkenal sebagai pemurah, sehingga tidak sedikit kekayaannya digunakan untuk menolong perjuangan Islam.
Sahabat selanjutnya adalah Ali bin Abi Thalib yang tidak peduli terhadap pakaiannya yang robek dan menjahitnya sendiri.
Beberapa tokoh besar dalam sufi adalah : Rabi’ah al-Adawiyah, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansur al-Hajjaj, dan Al-Ghazali.
Demikian fakta sejarah berbicara tentang kehidupan yang dipraktekkan oleh orang-orang yang bertasawuf, meninggalkan kemegahan dunia dan hanya mengabdikan diri untuk akhiratnya.
C. SUMBER-SUMBER TASAWUF
Ada kelompok yg berpendapat bahwa tasawuf berakar dari luar ajaran Islam seperti ; Majusi atau Hindu, Kristen atau Yunani, Atau campuran dari agama-agama tersebut.
Taswauf bersumber dari Yunani
Teori ini mengandung banyak kelemahan serta bertentangan dengan realitas sejarah. Pertama: Tasawuf Islam telah berkembang sebelum ajaran dan pemikiran agama hindu merasuki masyarakat muslim. Selain itu, tasawuf Islam lahir sebelum munculnya satu-satunya referensi tentang akidah agama hindu. Referensi itu adalah sebuah buku yg ditulis oleh Abu Ar-Raihan Al-Biruni (315H-440H) dengan judul Tahqiq Ma lil Hindi min Maqulah Maqbulah fil `Aqli Au Marzulah. Kedua: Dari referensi tersebut Al-Biruni tidak menyebutkan adanya hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi.
Oleh karena itu, tidak ada sandaran dan landasan historis yg memperkuat tentang teori tersebut yg mengatakan tasawuf bersumber dari yunani. (Tarikh At-Tashawwuf Al-Islami, lihat juga Dr. Jamil Muhammad Abul `Ala, At-Tasawwuf Al-Islami Nasy`atuh wa Tathawwuruh)
Tasawuf bersumber dari Persia
Sejarah membuktikan adanya hubungan Arab-Persia. Namun demikian, kita tidak mendapatkan keterangan yg jelas yg membuktikan adanya transmisi agama majusi dan filsafat Persia dari bangsa Persia ke bangsa Arab melalui hubungan tadi. Tidak ada argumentasi yg memungkinkan kita untuk membuat kesimpulan “bahwa tasawuf secara spesifik adalah salah satu pengaruh dan buah dari hubungan antara bangsa Arab dengan bangsa Persia”.(AL-Hayah Ar-Ruhiyah fil Islam) Jika ada orang yg mengatakan bahwa ajaran tasawuf bersumber dari Persia akibat terpengaruhnya para syeikh sufi pada Persia, maka berarti orang tersebut tidak memahami sejarah, dan pendapatnya itu bertentangan dengan kaidah ilmiah.
Selain itu, fakta menyatakan besarnya pengaruh para sufi terhadap para sufi Persia. Sebut saja Muhyiddin Ibnu Arabi (wafat 638H) Tokoh sufi ini sangat berpengaruh terhadap sejumlah besar tokoh sufi Persia semisal Al-Iraqi (wafat 686H) dan AL-Kirmani (wafat 698 H)
Tasawuf bersumber dari Filsafat Yunani
Sejarah membuktikan bahwa pemikiran Arab dan Yunani baru mengalami persinggungan setelah adanya kegiatan penerjemahan literature-literatur Yunani kuno ke dalam Bahasa Arab. Sementara Kegiatan penerjemahan ini baru dilakukan setelah tasawuf tumbuh dan berkembang pesat. Hal ini membuktikan bahwa pada fase-fase pertamanya tasawuf bersih dari pengaruh yunani.
Tasawuf bersumber dari Kristen
Pendapat para peneliti diatas pun tidak benar karena para sufi dan zahid yg terpengaruh ajaran Kristen muncul belakangan, jauh hari setelah kemunculan tasawuf itu sendiri. Anggapan sebagian orientalis yg mengatakan bahwa pola hidup miskin, sikap zuhud, dan zikir yang dilakukan para sufi diadaptasi dari Kristen juga salah. Karena banyak sekali ayat Al-Qur`an dan Sunnah Nabi yg menyeru ummatnya untuk berprilaku zuhud dan tidak cenderung pada dunia dan kenikmatannya. Banyak pula ayat dan hadits yg memotivasi umat untuk berzikir. Semua ini menegaskan bahwa praktek sufi tersebut mempunyai sumber yg orisinil dalam Islam.
Kesimpulannya. Setiap pendapat tentang keterpengaruhan tasawuf oleh unsur diluar Islam tidak tepat dan tidak didukung oleh dikumen atau teks yg diketahui khalayak ramai. Oleh karena itu, maka pendapat tersebut hanya terbatas pada masa paska tahun 1920M. Bahkan, sebagian orang yg berpendapat demikian mulai mencabut pendapatnya (Tarikh At-Thasawwuf Al-Islami).
Akhirnya, para zuhud dan sufi generasi pertama adalah orang-orang yg bersih jiwanya dan cerah hatinya, bersih nuraninya dan mampu menyingkap hakikat. Mereka melakukan seperti apa yg dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti zuhud, wara`, takwa, dan ibadah berkesinambungan. Keterpengaruhan mereka pada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam (bukan pada agama dan filsafat lain) itulah yg mengantarkan mereka menjadi manusia sufi dan zahid.
Tasawuf bersumber dari Islam
Ada kelompok yang mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari ajaran Islam. Inilah pendapat yang paling benar. Karena, dasar-dasar akidah dan perilaku tasawuf bersumber dari teks-teks Alqur`an dan As-Sunnah, dan kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau. Para zuhud menyandarkan kegiatan zuhudnya dari sumber-sumber Islam tersebut, demikian juga para sufi yg menempuh jalan yg lurus.
Dari Al-Quran:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yg sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-`Ankabut:64). Lihat pula Al-Hadid:20-21 Ali-Imran:191 - Thaha:130 l-Hujurat:13. Dalam banyak ayatnya, Al-Qur`an memotifasi untuk hidup zuhud dan mewaspadai sikap cinta dunia dan kemerlapannya. Orang yg membaca Al-Qur`an secara jeli akan menjumpai ayat-ayat yg membuka pintu zikir, introspeksi diri, ibadah dan bangun malam bagi para ahli ibadah. Al-Qur`an juga berbicara tentang muraqabah, taubat, takut (khauf) pada Allah, harapan (raja`) pada Allah, syukur, tawakal, serta sabar. Al-Qur`an penuh dengan anjuran untuk mengamalkan sifat terpuji. Maka karena itu, para sufi berupaya memperindah diri dengan sifat-sifat terpuji. Dan mengambil materi pertamanya dan makanan rohani mereka dari Kitabullah.
Hadits Qudsi dan Hadits Nabi: Abuhurairah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Allah Azza Wajalla berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hambaKu dan Aku selalu bersamanya tatkala ia mengingatKu. Jika hambaKu mengingatKu dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Dan, jika ia menyebutKu dihadapan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di hadapan orang banyak yg lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta maka aku akan mendekat padanya satu depa. Jika dia padaKu dengan berjalan, maka Aku akan datang padanya dengan berlari. (H.R. Muslim)
“Bersikap zuhudlah pada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, Bersikap zuhudlah dari segala apa yg dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu!.” (H.R. Ibnu Majah)
“Jadilah engkau didunia ini laksana orang asing atau orang yg sedang menyeberang jalan.” (H.R. Al-Bukhari)
Malaikat Jibril bertanya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang
Ihsan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya; dan jika engkau tidak melihatNya. Maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. AL-Bukhari)
BAB
IV
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan :
Semua aliran teologi dalam Islam,
baik asy'ariyah, maturidiah apalagi mu'tazilah sama – sama mempergunakan akal
dalam menyelesaikan persoalan – persoalan teologi yang timbul di kalangan umat
Islam. Perbedaan yang terdapat antara aliran – aliran itu ialah perbedaan dalam
derajat kekuatan yang diberikan kepada akal.
1.Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti
bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya.
Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffah yang
berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat
Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin.
2.Kehidupan Rasulullah Saw. dan Tahanutsnya di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama dalam perkembangan tasawuf selanjutnya
3. Sumber tasawuf :
1. Dari Yunani
2. Dari Persia
3. Dari Kristen
4. Dari Filsafat Yunani
5. Dari Islam
2.Kehidupan Rasulullah Saw. dan Tahanutsnya di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama dalam perkembangan tasawuf selanjutnya
3. Sumber tasawuf :
1. Dari Yunani
2. Dari Persia
3. Dari Kristen
4. Dari Filsafat Yunani
5. Dari Islam
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Kalabadzi,
al-Ta’arruf li Madzhab ahl al-Tashawuf (al-Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah,
Cairo, 1969) h. 28
Ibrahim Basuni, Nasy’ah al-Tashawuf al-Islami, Juz III (Dar al-Maarif, Mesir, 1119), h. 9
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filasafat dan Tawawuf (Dirasah Islamiyah IV)(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 153
Al-Ustadz Abdullah Taslim, Hakikat Tasawuf , Lc. (Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah).
http://www.fauzulmustaqim.com/2015/10/makalah-ilmu-tasawuf-pengertian-dan.html
Ibrahim Basuni, Nasy’ah al-Tashawuf al-Islami, Juz III (Dar al-Maarif, Mesir, 1119), h. 9
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filasafat dan Tawawuf (Dirasah Islamiyah IV)(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 153
Al-Ustadz Abdullah Taslim, Hakikat Tasawuf , Lc. (Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah).
http://www.fauzulmustaqim.com/2015/10/makalah-ilmu-tasawuf-pengertian-dan.html
Nasution,
Harun.Dr. Prof, Islam Rasional, Mizan , Bandung, 1995
Nasution,
Harun.Dr. Prof, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, 1990
Nasution,
Harun.Dr. Prof, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 2007
Madjid,
Nurcholis (Ed), Khazanah Intelektual Islam, Jakarta, 1985
Komentar
Posting Komentar